
“Di atas air mengalir kulajukan bongkahan kayuku sebagai alat antar jemput orang-orang bepergian.”
Tahukah anda arti dari kalimat di atas? Maksud dari kalimat di atas adalah menceritakan kegigihan seorang tukang perahu dalam menghidupi keluarganya.
Dulu, pada saat belum ada belum ada kendaraan seperti sekarang ini seperti : mobil, motor dll. Perahu merupakan alat antar jemput yang tepat untuk bepergian. Selain sedikit menyebabkan polusi dan polisi, lewat perahu juga dapat melihat pemandangan yang indah. Namun sekarang, keberadaannya sudah mulai punah. Hal ini disebabkan munculnya kendaraan-kendaraan, jalan-jalan dan jembatan.
Walaupun sudah tidak banyak orang yang mau menumpang, tetapi masih ada yang beroperasi lho, seperti di tambangan pasar ayam. Untuk itu, kami dari kru OBSESI pada hari jum’at, 5 Nopember 2010 ikut serta berpartisipasi sekaligus berwawancara dengan tukang perahu yang ada di sana.
Pada saat berada di sana, kami melihat masih banyak yang mengoperasikan perahu sebagai alat transportasi. Di sana masih ada 4-5 perahu. Pekerjaan sebagai tukang perahu ini sudah ada sejak dahulu lho, bahkan sudah ada pada zaman yunani kuno. Biasanya para tukang perahu berangkat bekerja dari pukul 4 pagi- 1 siang. Untuk para penumpang,, harus bersbar dikit, soalnya para tukang perahu biasanya menunggu penumpang agar tidak merugikan.
Kami telah mewawancarai salah satu dari tukang perahu yaitu bapak Muzamil. Bapak Muzamil ini telah berumur 50th dan bertempat tinggal di Ds Mojongudi, Kalisari Baureno Bojonegoro. Bapak Muzamil memulai pekerjaannya pada tahun 1975. Walaupun Bapak Muzamil ini nmempunyai 6 anggota keluarga , beliau tetap semangat menekuni pekerjaannya yang penghasilannya dalam sehari hanya 10-20 ribu rupiah. Namun, bapak Muzamil sudah merasa cukup.beliau menekuni pekerjaan ini karena bias. Seperti kata pepatah “ala bisa karena biasa”. Perahu bapak Muzamil ini bisa dinaiki atau dimuati maks 13 penumpang. Wah,, kapasitas yang cukup banyak.
Biaya? Untuk biaya dijamin murah. Untuk penumpang yang ingin menyeberang hanya dibebani membayar sebesar Rp 1000,-. Sedangkan untuk para penumpang dari babat-mojo ataupun sebaliknya, mereka hanya dibebani Rp 2000,-. Padahal jarak yang di tempuh bisa sampai 6-7km, wah, sangat murah. Menurut Pak Muzamil, waktu mengoperasikan perahu itu lebih enak pada saat banjir. Mengapa? Karena pada waktu itu kendaraan jarang/ bahkan tidak beroperasi. Sehingga penumpang memilih naik perahu sebagai alat transpormasi. Bapak Muzamil pertama membeli mesin dan perahu ini totalnya Rp 1.900.000,-. Maka dari itu perlu perawatan khusus pada perahu dan mesin agar tidak mudah rusak. Untuk mesin, perlu diganti oli secara rutin jika keadaan oli sudah tidak layak dipakai. Sedangkan untuk perahu, perlu di servicekan 1 kali dalam satu tahun. Selain pekerjaan sebagai tukang perahu ini, Bapak Muzamil juga mempunyai pekerjaan lain yakni sebagai petani. Hal ini dilakukan karena agar menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan.
Selain Bapak Muzamil, ada juga tukang perahu yang lain yakni P sabar yang berumur 50th (Kebomlati, Tuban) dan P khalis, 60th (nguwok, Babat).
Beliau berharap kepada pemerintah agar lebih peduli terhadap pekerjaan kecil seperti ini.oleh karena itu untuk generasi muda, diharapkan untuk tetap semangat belajar agar dapat menjadi panutan.
Ok sobat SESI, itulah sekilas tentang pekerjaan seorang tukang perahu di kota Babat. Keberadaan tukang perahu memang ada sisi positif dan negatifnya. Jasa para tukang perahu masih dibutuhkan. Oleh karena itu, kita harus menjaga keberadaannya.
No comments:
Post a Comment